Joomla gallery by joomlashine.com

Caritas

  • Rapat Paripurna Seksi PSE Se-KAM

    Rapat Paripurna Seksi PSE Se-KAM di Pusat Pembinaan Umat Karangsari Pematangsiantar, 20-22 Nopember 2014.

    #

  • Perayaan HPS 2014 Keuskupan Agung Medan

    Misa Perayaan HPS 2014 Keuskupan Agung Medan di Paroki St. Antonius Hayam Wuruk Medan,18-19 Oktober 2014.

    #

  • Perayaan HPS 2014 Keuskupan Agung Medan

    Pemberian hadiah kepada para juara lomba pidato Bahasa Indonesia, 18-19 Oktober 2014.

    #

  • Erupsi Sinabung

    Erupsi terjadi pada hari Kamis, 09 Oktober 2014 sekitar pukul 23.00 WIB.

    #

  • Membagikan Masker

    Staff Caritas PSE membagikan Masker gratis kepada pengguna jalan, 9 Oktober 2014.

    #

  • Membagikan Masker

    Staff Caritas PSE membagikan Masker gratis kepada pengguna jalan, 9 Oktober 2014.

    #

  • Sosialisasi

    Perlindungan dan Pelestarian Hutan secara Berkelanjutan berbasis masyarakat dan Pengembangan Ekonomi masyarakat berbasis Potensi Lokal di Kecamatan Pakkat dan Tarabintang, 14 Agustus 2014.

    #

  • Sosialisasi

    Perlindungan dan Pelestarian Hutan secara Berkelanjutan berbasis masyarakat dan Pengembangan Ekonomi masyarakat berbasis Potensi Lokal di Kecamatan Pakkat dan Tarabintang, 14 Agustus 2014.

    #

  • Sosialisasi

    Perlindungan dan Pelestarian Hutan secara Berkelanjutan berbasis masyarakat dan Pengembangan Ekonomi masyarakat berbasis Potensi Lokal di Kecamatan Pakkat dan Tarabintang, 14 Agustus 2014.

    #

  • Pertemuan

    Pertemuan Pertemuan Caritas PSE KAM dengan Konsultan Kehutanan USU (10/06/14).

    #

Singkong Sambung Menjanjikan Ekonomi Masyarakat

Bertepatan musim kemarau di kawasan Kabupaten Serdang Bedagai, Panen perdana Singkong Sambung dipusatkan di Dusun VII Kampung Banten Desa Silau Rakyat Kecamatan Sei Rampah tanggal 13 Februari 2012. Bibit Singkong Sambung merupakan hasil uji lapangan yang dilakukan Yayasan PANSU selama 2 tahun lebih. Hasilnya telah terbukti memiliki prospek yang baik dalam rangka rangka meningkatkan produktifitas lahan dan ekonomi masyarakat. Sehingga perlu melakukan sosialisasi kepada para petani dan stakeholder lainnya.

Panen Perdana Singkong Sambung dihadiri oleh berbagai pihak mulai dari Ir. H. Soekirman (Wakil Bupati Serdang Bedagai), BPTP Medan diwakili Ir. Elianoor Sembiring, dari Puslit Karet diwakili Dr. Tumpal H Siregar, dari Pabrik Pengolah Singkong PT.  Sari Tani Sumatra dan PT Florindo Makmur, dari pelaku Home-Industri, Calon Investor mulai dari dr. Amin, Vincentius, Asiong, Wahyudin Yahya, Sinhu  dan Caritas PSE KAM diwakili oleh Job R. Purba (Wakil Direktur), Leo Tarigan, Ferdinan Marpaung, Leonardo Tambunan (Divisi Ekora Caritas PSE KAM). Sedang dari jajaran Pemda Serdang Bedagai menurunkan SKPD yang memiliki hubungan langsung dengan masalah pertanian mulai dari Kadis Pertanian (Ir. Setiarno), Penyuluh Pertanian, Camat Sei Rampah (R. Sinaga), Kelompok Tani, Kepala Desa, dan petani singkong yang ada di wilayah Kab. Serdang Bedagai. Beberapa insan pers juga menghadiri kegiatan tersebut. Ir. H Soekirman turun langsung ke kebun singkong dan melakukan pendongkelan panen perdana singkong. “Ini ubi beneran ya….bukan ubi-ubian, bukan main ini hasilnya” demikian komentar Wakil Bupati yang pernah lama menjadi aktivis pemberdayaan masyarakat. Singkong langsung ditimbang dengan bobot 47 kg/batang, dilanjutkan dengan wakil dari BPTP Medan dengan bobot 35 kg/batang, dilanjutkan oleh Kadistan Serdang Bedagai 32 kg/batang, Perwakilan pengolah singkong, Camat Sei Rampah, Kepala Desa, dan Caritas PSE KAM 28 kg/batang. Setelah panen perdana, undangan dipersilahkan mencicipi aneka hidangan makanan serba singkong yang dipersiapkan oleh masyarakat Dusun VII Kampung Banten Desa Silau Rakyat. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi potensi singkong oleh. Ir. H Sabirin (Ketua Yayasan PANSU), yang menyampaikan kronologis dan ketertarikannya pada singkong raksasa ini. Menurutnya, bahwa 3 tahun yang lalu timbul ide untuk mencoba menghasilkan singkong besar ini dengan beberapa argument yang disampaikan mulai dari adanya petani singkong "Pak Mukibat” tahun 1950 di Kediri yang mampu menghasilkan singkong dengan bobot tinggi sebesar 5 kali lipat dibanding dengan cara budidaya konvensional. Kemudian dia lanjutkan dengan mencoba di beberapa titik sebagai ujicoba penanaman dan ternyata mampu menghasilkan umbi yang besar. Kemudian adanya isu bahwa tanaman singkong ini sangat boros kepada unsur hara tanah, sehingga timbul di kalangan banyak pihak menanam singkong menguruskan tanah. Hal ini ternyata tidak benar, karena tanaman singkong ternyata membutuhkan bahan organik yang tinggi dan dengan memberikan minimal 2 kg pupuk organik ataupun pupuk kandang ternyata tanah mampu memproduksi umbi secara baik. Dari perjalanannya menekuni singkong ini, Ir. H. Sabirin juga melakukan kunjungan di beberapa tempat di kawasan penghasil singkong ini untuk melihat model budidaya dan aneka jenis/klon singkong yang ada mulai dari Jogya ada singkong Genderowo yang berumbi besar, di Purwokerto banyak yang menerapkan cara-cara Mukibat namun dengan cara sambung batang, di Bandung, di NTT, Lampung dan Sumatera Utara sendiri. Setidaknya saat ini ada 15 jenis singkong yang dikoleksinya dan telah diuji secara genetik model umbi yang ditampilkan. Pak Sabirin selanjutnya telah menemukan ada 5 jenis singkong yang potensi untuk dikembangkan di sentra-sentra penanaman singkong yang ada. Dari 5 jenis singkong yang ada tersebut ada 3 jenis yang perutukannya untuk diproses di pabrik dan 2 jenis diperuntukkan untuk home industri dan makanan jajanan. Sementara untuk jenis batang atas yang sudah diidentifikasinya terdapat 4 jenis singkong karet/singkong hutan yang dapat digunakan dan 2 jenis sangat potensi untuk dipilih. Pertimbangan lain adalah bagaimana meningkatkan pendapatan petani-petani lahan kecil di desa khususnya di sentra-sentra penanaman singkong supaya lebih sejahtera. Karena pengalamannya lebih 20 tahun mendampingi petani padi, sangat sulit untuk meningkatkan kesejahteraannya dan anak-anak petani padi sangat sulit untuk dapat sekolah sampai ke perguruan tinggi. Menurut Ir. H. Sabirin untuk menghasilkan bibit singkong sambung ini memerlukan keterampilan khusus dan ketelitian, “gampang-gampang sulit untuk memproduksi bibit singkong sambung ini” tambahnya. Dengan terus berinovasi bagaimana memproduksi bibit sambung ini, menurutnya ada banyak cara yang bisa dilakukan petani sendiri. Mulai dari sambung batang dengan batang, okulasi, sambung samping, sambung sisip dan sambung pucuk. Tinggal pilihan yang mana yang paling enak dikerjakan. Pilihan Singkong Sambung ini sangat sesuai dan aman, karena tidak ada orang lain yang memanen terlebih dahulu. Kenapa tanaman singkong aman dan tidak ada dipanen orang lain, sudah dibuktikannya. Pak Sabirin telah menguji menanam singkong sambung ini di komunitas padat, tidak banyak ditanam singkong di lokasi tersebut dan sebelumnya lahan yang ada ditanami kakao yang tidak pernah kebagian hasilnya. Ternyata selama ditanam tidak ada gangguan yang berarti. Ada beberapa batang yang dicuri oleh tetangga, mungkin mencoba untuk direbus ataupun dibakarnya. Tetapi hanya 2 batang saja, setelah itu tidak ada yang mencoba untuk mencurinya, karena memang singkong yang ada diperuntukkan untuk pabrik sehingga tidak enak rasanya (pahit) kalau dikonsumsi langsung. Bahkan ternak (sapi ataupun kambing tidak mau memakan daunnya). Dari hasil panen perdana tersebut diprediksi bahwa rata-rata berat umbi dicapai 30 kg/batang dan dalam 1 hektar akan mampu dipanen sebanyak minimal 120 ton umbi segar dengan harga di pabrik Rp 780/kg. Lahan yang dipanen tersebut menggunakan jarak tanam  1,5 x 1,5 meter  dan  populasi 4400 batang tanaman.

Job R. Purba (Wakil Direktur Caritas PSE KAM) mewakili Lembaga/NGO menyampaikan komentar pada proses diskusi potensi singkong tersebut “Saya sudah diinformasikan dan pernah diajak oleh Sdr. Sabirin lebih dari setahun yang lalu untuk menanam singkong sambung ini, namun tidak jadi-jadi direalisasikan. Namun dari proses pemanen tadi saya jadi lebih tertarik lagi dan sudah berniat untuk pensiun dengan menanam singkong sambung ini. Hitung-hitungannya sangat jelas, kalau rata-rata buah yang dihasilkan sebatang saja 30 kg/batang dan dalam 1 hektar akan siap panen sebanyak 4000 batang, maka akan dihasilkan 120 ton dan dengan harga singkong saat ini mencapai Rp 700/kg, maka uang yang dapat didapat Rp 84 juta sedang modal yang diperlukan hanya Rp 25 jutaan”. Mestinya model penanaman singkong sambung ini jangan disosialisasikan, karena hasilnya cukup jelas dan kenapa tidak kita-kita saja yang menanam biar kita dapat duluan?.  Pada kesempatan tersebut juga dia mengajak kepada seluruh yang hadir, mari kita buktikan tanaman ini dan kita akan dapat menentukan sendiri mau gaji berapa per bulannya, tinggal kita yang mengatur luas lahan yang dibutuhkan. Diskusi berjalan dengan hikmat dengan turunnya hujan yang sudah sepekan dinanti-nantikan masyarakat. Pada akhir sosialisasi Ir. Sabirin menyampaikan  4  Kiat Menanam Singkong. Pertama, “pilih lahan yang tidak akan tergenang pada musim penghujan, kedua gunakan bibit singkong sambung, ketiga aplikasikan pupuk kandang ataupun pupuk organik 2 kg/batang, keempat kendalikan hama kutu daun dan rerumputan”.  (LTB)